Sony Soemarso, Program Operation Manager PT Ewaysindo Makmur
Jakarta, RMexpose.Dunia teknologi informasi (TI) di Indonesia terus berkembang pesat mengikuti kebutuhan dunia usaha dan pendidikan. Dibutuhkan strategi pemasaran yang tepat agar sukses di bisnis IT ini.
Di tengah kurangnya tingkat kepemilikan komputer dan akses internet pribadi dan menjamurnya pusat-pusat penyewaan internet (warnet), justru ikut menopang perkembangan TI. Peran dan fungsi warnet ini menjadi karakteristik tersendiri dalam dunia TI di Indonesia.
Menurut Sony Soemarso, Program Operation Manager PT Ewaysindo Makmur, dalam operasionalnya,industri warnet menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya masih kurangnya ketersediaan bandwidth yang besar dan murah. Padahal, besarnya dana operasi warnet bisa dikurangi jika kebutuhan bandwidth ini dipenuhi.
“Sekarang sebenarnya harga sudah diturunkan. Tapi jika bisa lebih rendah, warnet-warnet ini bisa menurunkan harga lagi untuk meningkatkan jumlah pelanggan,” jelasnya.
Tantangan kedua, kurangnya kesadaraan pentingnya kegiatan pemasaran dalam pengembangan usaha. Banyak pelaku usaha warnet tidak memiliki anggaran (budget) dalam menggerakan strategi marketing-nya.
Padahal, langkah ini harus dilakukan agar bisnis warnet bisa dikenal konsumen. Hal ini berbeda dengan bisnis IT di negara lain yang dilakukan secara simultan dan masif.
Untuk itu, saran Sony, kerjasama semua pihak dibutuhkan untuk membantu pelaku usaha warnet ini menghadapi tantangan tersebut. Bekerja sama dalam program-program Yahoo! Advantage Warnet (Internet Cafe), Sony menggunakan strategi bisnis jemput bola (door to door) untuk menjaring anggota. Hingga akhir tahun 2008, menurut Sony, program itu ditargetkan dapat menjaring 900 warnet.
Meski bergabung di Eways kurang dari setahun, namun dunia TI sudah digeluti Sony sejak tahun 1999. Kariernya dimulai sebagai konsultan di sebuah perusahaan TI. Di perusahaan yang bergerak di bidang customer relation management ini, Sony khusus menangani bidang TI. Padahal, latar belakang pendidikannya di bidang perhotelan.
Dia mengakui, pilihan kerja di bidang TI merupakan ketertarikan pribadinya. Pilihan tersebut, kata dia, sangat dipengaruhi interaksinya dengan seorang pakar TI asal Indonesia, Onno W. Purbo tahun 1997. Dari interaksi ini, dia memahami bahwa bisnis TI perlu dilakukan secara bersinambungan dengan terus mengikuti tren TI dunia. DWI