| |
| TV China Mau Geser Produk Dari Jepang |
| Rabu, 10 Maret 2010, 00:10:08 WIB |
| |
|
|
| |
Jakarta, RMexpose.Sekalipun belum resmi ditandatangani perjanjian kerjasama pelaksanaan ASEAN-China Free Trade Agreement (CFTA), produk China sudah membajiri pasar di Indonesia. Salah satunya adalah Changhong Electronics, produsen televisi asal China, yang ikut menyemarakkan pasar teve di tanah air. Beberapa produk high-end telah disiapkan, khususnya untuk line up plasma TV dan LCD TV.
Mengedepankan performa black glossy, teve ini cocok diletakkan di ruang keluarga. Line up televisi plasma dan LCD ditujukan untuk kelas yang berbeda dari kelas CRT.
”Kami mencoba membidik pasar high-end, sekaligus menjadikan merek Changhong tetap diingat konsumen,” ujar Manager Penjualan Nasional Changhong Indonesia, Felic Khusnadi di sela peluncuran TV asal China di Hotel Sangrila Java Sumatera Room Kuningan Jakarta, baru baru.
Menurut Washington Feng, Representatif Changhong Indonesia, perusahaannya kini memfokuskan penjualan produk teve di Indonesia. Setelah sukses menjadi raja TV Cina, Changhong akan terus menggenjot penjualan teve di pasar Indonesia.
Kini, pangsa pasar produk teve ini masih kecil. “Kami tahu kompetisi sangat ketat di pasar Indonesia. Namun, kami melihat pasar Indonesia, potensinya sangat bagus,” katanya menanggapi rezim pasar bebas ini.
Sementara Kementerian BUMN mendorong pemerintah menerapkan penggunaan label Standar Nasional Industri (SNI) terhadap produk China guna melindungi perusahaan lokal dan sekaligus memproteksi konsumen, terkait CFTA.
”SNI penting diterapkan untuk mengetahui kualitas barang yang masuk ke Indonesia,” kata Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
ACFTA memberikan dampak besar terhadap pasar lokal karena akan dibanjiri produk-produk yang beragam kualitas dan harganya. Satu jenis produk, kata Said, bisa memiliki hingga lima kualitas. Harganya pun bervariasi dan bisa bersaing dengan produk sejenis dalam negeri.
”Dari tampang sama (produk), tapi kualitasnya rendah. Harga yang ditawarkan yang lebih murah bisa saja produk asal China tersebut lebih laku,” tegasnya.
Untuk itu, Said menegaskan, penerapan SNI tidak saja diberlakukan untuk produk dari luar negeri tetapi juga produk lokal agar telihat jelas bahwa yang dibeli para konsumen bukan produk “sampah”.
Sesungguhnya, masalah yang dihadapi adalah bahwa produk asal China yang masuk ke dalam negeri tidak punya standar. “Kalau standarnya sama, maka kita yakin mampu bersaing. Manufaktur agak berat, tapi kalau produk rumahan masih beranilah,” tegas Said.
Said mencontohkan, motor China yang sempat menjadi fenomenal masuk ke Indonesia karena dijual dengan harga murah, belakangan tidak lagi laku atau bahkan hilang dari pasar karena konsumen otomotif sudah lebih jeli terhadap kualitas produk.
Untuk itulah, katanya, penting bagi pemerintah untuk mengedepankan kampanye produk dalam negeri, dengan catatan bahwa yang diproduksi adalah barang berkualitas. FIK
|
| |
|
|
|
|
|
|
Untitled Document
|
|
|
Untitled Document
|
| |
Untitled Document
|
|
|
|